banner 728x286

Orang Papua di Tengah Euforia Piala Dunia dan Non OAP sibuk solidaritas Krisis Kemanusiaan.

filter: 0; fileterIntensity: 0.0; filterMask: 0; brp_mask:0; brp_del_th:null; brp_del_sen:null; delta:null; module: photo;hw-remosaic: false;touch: (-1.0, -1.0);sceneMode: 8;cct_value: 0;AI_Scene: (-1, -1);aec_lux: 0.0;aec_lux_index: 0;albedo: ;confidence: ;motionLevel: -1;weatherinfo: null;temperature: 43;
banner 120x600

TOLIKARA, SUARALANI.id— Di tengah antusiasme masyarakat menyambut berbagai pertandingan sepak bola dunia dan euforia Piala Dunia, sejumlah kalangan di Papua mengingatkan bahwa masih ada persoalan besar yang belum terselesaikan, yakni krisis kemanusiaan, pengungsian warga sipil, dan persoalan tanah adat di Tanah Papua. (03/06/2026).

Beberapa aktivis, mahasiswa, tokoh gereja, hingga masyarakat adat menilai perhatian publik sering kali lebih tertuju pada hiburan dan olahraga, sementara situasi sosial kemanusiaan di sejumlah wilayah Papua terus menjadi sorotan nasional maupun internasional.

“Saat orang Papua sibuk mendukung Piala Dunia, dunia luar justru sibuk membicarakan krisis kemanusiaan, pengungsian, dan perampasan tanah adat di Papua,” ungkap Yigibalom Nanu Piga.

Dalam beberapa bulan terakhir, laporan mengenai pengungsian warga akibat konflik bersenjata kembali mencuat. Organisasi masyarakat sipil menyebut ribuan warga di beberapa daerah pegunungan Papua masih hidup dalam keterbatasan akibat meninggalkan kampung halaman mereka.

Selain persoalan pengungsian, isu perampasan tanah adat juga menjadi perhatian masyarakat adat di berbagai wilayah Papua. Sejumlah kelompok masyarakat menilai pembangunan dan investasi yang masuk ke Papua sering kali tidak melibatkan persetujuan penuh masyarakat adat sebagai pemilik hak ulayat.

Tokoh gereja dan aktivis HAM meminta pemerintah pusat maupun daerah untuk lebih serius memperhatikan kondisi masyarakat Papua, terutama terkait perlindungan warga sipil, penyelesaian konflik secara damai, serta penghormatan terhadap hak-hak masyarakat adat.

Mereka berharap Papua tidak hanya dilihat melalui olahraga, hiburan, atau kekayaan alamnya semata, tetapi juga melalui kondisi nyata yang sedang dihadapi masyarakat di berbagai daerah.“Papua butuh kedamaian, keadilan, dan penghormatan terhadap martabat manusia,” ujar. Yigibalom Nanu Piga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *