Oleh: Angginak Sepi Wanimbo***). Ketua Pegiat Literasi Mencerdaskan Anak Negeri Papua Pegunungan
A. Pendahuluan
Mari kita bersatu hati bangkit angkat pena sebagai salah satu alat tulis, alat komunikasi, alat merekam setiap peristiwa yang sedang terjadi di depan mata maupun melalui pendengaran sebabnya pena jadikan sebagai salah satu kekayaan untuk merawariskan benih – benih baik melaluinya.
Jika kami tidak dapat diperkenalkan pena sebagai alat tulis maka kita saat ini belum mengenal seisi dunia tetapi kami dapat diperkenalkan pena sehingga saat ini kami sangat muda mengelilingi dunia dari tempat yang anda tinggal di perkotaan maupun di perkampungan.
B. Sejarah Pena
Pena merupakan salah satu alat tulis saat ini. Sejak kapan pena digunakan dan siapa yang menemukannya? Yaitu salah satu seorang tokoh dunia yang berhasil menemukan pena yang sampai saat ini digunakan oleh manusia.
Tak mudah memang untuk menentukan sejak kapan manusia mengenal pena. Ada dugaan yang menyebut bahwa manusia pertama kali menggunakan tatah (besi yang ditajamkan) yang sering dipakai untuk menulis dan menggambar di atas batu atau lempengan logam dan merupakan generasi pertama dari pena. Konon, baru pada tahun 1.000 SM terjadi revolusi alat tulis saat Cina memakai kuas rambut sebagai alat tulis. Kuas itu menggunakan tinta kering dari jelaga atau arang yang penggunaannya seperti cat air.
Sekitar 400 SM, ”lahir” pena yang terbuat dari batang alang-alang untuk menulis di atas kertas papirus. Pena jenis semacam ini dapat ditemukan di Mesir dan Armenia, sedang Kairo dan Alexanderia terkenal sebagai pasar utama barang-barang tersebut. Sekarang pun masih banyak orang di sepanjang pantai Teluk Persia yang mengumpulkan batang alang-alang untuk keperluan itu, sedangkan pemasarannya menyebar ke sebagian negara Timur. Kabarnya, pena itu paling cocok dengan tinta dan kertas yang digunakan di sana. Alang-alang yang dipilih biasanya yang berbatang sangat kecil namun kuat. Setelah dipotong, alang-alang tersebut disimpan secara khusus, misalnya disimpan di bawah timbunan pupuk kandang selama beberapa bulan.
Hasilnya, selain berubah warna hitam bercampur kuning, batang akan semakin keras dengan permukaan yang lebih halus. Seiring dengan berkembangnya mutu kertas, maka menuntut pena yang lebih halus. Bulu angsa pun jadi pilihan. Jika merujuk kiasan yang ditulis St. Isodore dari Sevile, pena bulu baru muncul pada abad VII. Meski banyak yang menduga pena bulu telah ada lebih awal.
Setelah disortir sesuai panjang dan tebalnya, bulu sayap dipendam dalam pasir panas agar kulit luarnya kering. Proses ini membuat bulu mudah dibersihkan serta bagian dalamnya mengerut dan terkelupas. Lalu bulu lembutnya diperkeras dengan mencelupkannya ke dalam larutan mendidih yang mengandung tawas atau asam nitrat. Di tahap akhir, ujung pena dibelah dan dibentuk agar enak dipakai.
Pena bulu angsa memepunyai peran yang penting saat itu. Pena Baja ditemukan pada 1820, dan berangsur-angsur mengambil alih tugas bulu angsa. Bentuknya pun beragam dari yang bundar, runcing, dan pahat. Sekarang kita hanya menggunakan pena-pena yang dihasilkan dari pabrik, siap pakai untuk segala tujuan.
Pada tahun 1828, orang mulai mengenal pena baja yang diperkenalkan John Mitchell dari Birmingham Inggris. Seharga kira-kira 7,5 liter beras sekarang ini. Sayang, saat itu orang merasa tidak nyaman memakainya jika setiap kali pena baja itu harus dicelupkan ke dalam tinta.
Tahun 1884, muncullah pulpen berkantung tinta dengan prinsip kerja pipa kapiler yang salah satunya dibuat oleh orang Amerika, Lewis Edson Waterman. Pena ciptaan Waterman ini memang telah membuat revolusi tersendiri dalam bidang penulisan. Sebab manusia tak perlu lagi berulang kali mencelupkan pena ke dalam tempat tinta setelah selesai menulis beberapa kata. Waterman telah menggunakan plat berbalut iridium emas pada mata pen tersebut. Ia juga merupakan orang yang pertama meletakkan klip pada penutup pena.
C. Sejarah Pena Di Tanah Papua
Sejarah juga membuktikan bahwa pena diperkenalkan kepada orang asli Papua melalui pendidikan bermula pada tahun 1855 seiring masuknya para misionaris Protestan (Zending) di Pulau Mansinam, yang kemudian disusul oleh pendidikan formal/modern terstruktur pada tahun 1925 di Kampung Miei, Teluk Wondama, serta pembukaan pusat pendidikan di Kokonao pada tahun 1928.
Pada Tahun 1855: Penginjil C.W. Ottow dan J.G. Geissler tiba di Pulau Mansinam pada 5 Februari 1855, di mana kegiatan baca-tulis dasar mulai diajarkan bersamaan dengan misi keagamaan.
Tahun 1925: Sekolah guru desa atau pendidikan modern formal pertama bagi anak-anak Papua resmi dibuka oleh Zending di Kampung Miei, Wasior, Teluk Wondama.
Lalu Tahun 1928: Wilayah Kokonao di Mimika berkembang menjadi pusat pendidikan formal penting yang menjangkau anak-anak dari daerah pesisir hingga kawasan pegunungan
D. Model Pena
Berbagai Model pena sebagai berikutnya adalah pulpen yang mengandalkan bola logam di ujung pena yang akan terus terendam cairan tinta dari kantung tinta. Maka pulpen dilengkapi tutup atau tombol mekanis yang mencegah tinta mengering di ujung. Berbagai model dan bentuk, banyak dibuat kala itu. Namun, model yang paling memuaskan adalah karya Lazlo Biro. Pulpen pernah sangat populer di Inggris terutama selama PD II (1939-1940) yang kala itu banyak disukai para pilot tempur karena tidak bocor saat dibawa terbang.
Berbeda dengan pulpen yang menggunakan tinta encer, bolpen menggunakan tinta kental dan lengket. Hal inilah yang menyebabkan tak mudah bocor ke ujung sehingga bola menjadi belepotan. Tahun 1960-an mulai dikenal pena berujung lembut yang kita sebut spidol. Ini terobosan baru, karena mata penanya terbuat dari plastik berpori, kantung tintanya pun mengandung sintetis yang berserat. Sedangkan cara kerjanya seperti spons menyimpan air.
Menilik kelebihan setiap jenis pena maka timbul gagasan untuk memadukannya. Hasilnya pena rolling ball dengan bola di ujung mata pena seperti bolpen, namun menggunakan tinta cair yang tersimpan aman di kantung seperti pada pulpen atau spidol. Saat dipakai, ujung pena akan meluncur nyaman pada permukaan kertas layaknya menggunakan pulpen atau spidol.
E. Angkat Pena
Kita diperkenalkan oleh ayah dan ibu tentang pena itu sejak ada di bangku studi TK Paud, Sekolah Dasar, SD. Sekolah Menega Pertama, SMP. Sekolah Menega Umum, SMU. Hingga perguruan tinggi yang sedang belajar, kerja maupun kita semua selalu angkat pena untuk menulis apa yang kita belajar, dengar dan melihat dalam buku.
Mengapa kita pakai pena untuk menulis karena kemampuan manusia untuk merekam, mendokumentasikan setiap pelajaran, materi, dan peristiwa tidak bisa hanya dengan mendengar saja tentu sangat mudah melupakan oleh karena itu pena salah satu alat pembangtu untuk menulis setiap proses belajar dan mengajar di rumah, sekolah maupun di kantor.
Melalui pena semua proses yang sedang terjadi sangat muda untuk menulis sebagai catatan sejarah untuk kemudian hari dan juga catatan melalui pena menjadi salah satu sumber referensi bagi setiap generasi penerus gereja dan bangsa.
F. Pena Jadikan Sebagai Senjata
Para pembaca yang mulia penulis percaya bagi bapa ibu pembaca akan merasa aneh sebab saya menulis pena sebagai salah satu senjata karena senjata yang dimiliki oleh anggota TNI/Polri satu peluruh hanya akan kena satu kepala manusia, tetapi angkat satu pena melalui karya buku akan kena sekian ribu kepala manusia.
Senjata yang dimiliki oleh anggota TNI/Polri akan menewaskan nyawa manusia yang bersalah dan tidak bersalah, tetapi senjata yang dimiliki oleh orang – orang terdidik, berilmu dan terhormat akan angkat pena sebagai senjata akan mencerdaskan, mendidik, menolong bagi mereka yang tidak ditolong tetapi juga selamatkan yang tidak dapat diselamatkan.
Melalui pena dan buku tulis akan selamatkan sejarah, bahasa, budaya serta kekayaan alam untuk wariskan sebagai salah satu kekayaan intelektual bagi generasi penerus bangsa dengan catatan pena mereka tidak muda dapat ditipu oleh orang lain. Tetapi dengan keyakinan generasi penerus akan berdiri, maju sebagai suatu bangsa yang merdeka.
Jika saat ini setiap peristiwa yang sedang terjadi depan mata kita menganggap biasa – biasa lalu tidak merekam, melalui pena maka suatu waktu akan muda dapat ditipu oleh orang lain. Tetapi ketika kita budayakan pena sebagai senjata yang kuat akan kita berdiri diatas kakinya kita sendiri.
Pena jadikan sebagai senjata yang kuat sebab dengan pena kita dapat didik, didorong, tetapi juga kita menyadarkan dan selamatkan bagi yang belum dapat diselamatkan oleh orang lain di tanah ini.
Secara fisiknya penulis ada di TiEyom Papua Pegunungan. Tetapi dengan karya tulis melalui pena sangat muda menjangkau di berbagai belahan dunia itulah yang disebut dengan pena sebagai senjata yang paling ampuh di negeri ini.
Beberapa tokoh milik orang Papua mereka angkat pena sebagai senjata salah satunya yaitu, Socratez sofyan Yoman, Benny Giay, Markus Haluk, Ibrahim Peyom, Hester Haluk, Paskalis Kosay, Filep Karma, Markus Kilungga, Neles Tebay, Natan Pahabol, Neri Payage, Lukas Enembe, dan patriot – patriot serta tokoh lainnya yang penulis tidak sebut satu persatu mereka sudah angkat senjata melalui pena menjatakan nilai – nilai keadilan, kebenaran, kejujuran tetapi juga mereka mendidik yang belum dapat terdidik bagi orang lain.
G. Kesimpulan
Jadikan buku dan pena sebagai senjata dalam kehidupan sehari – hari maka semua manusia akan mendapat pertolongan melaluinya untuk melihat masa depan penuh harapan.
“Pena dan buku jadikan sebagai sahabat hidup bagi setiap manusia dalam kehidupan sehari – hari maka tidak akan pernah muda ditipu oleh orang lain di tanah ini, tetapi pena bersama buku ditinggalkan lalu beraktivitas hanya seorang diri ibaratkan ada didalam goua atau hutan rimbah.
Sebab itu bagi yang sudah mempunyai ilmu pengetahuan yang tinggi ilmu itu jadikan sebagai alat mencerdaskan anak bangsa sebagai azet gereja dan bangsa di tanah Papua.
TiEyom, 29 Juli 2026
Penulis: Ketua Pegiat Literasi Mencerdaskan Anak Negeri Papua Pegunungan.










