TOLIKARA, SUARALANI.id– Kabupaten Tolikara kembali menjadi ruang penting bagi perjumpaan antara kehidupan keagamaan, budaya, masyarakat, dan pemerintah melalui Festival Etnik Religi Kabupaten Tolikara 2026.
Kegiatan tersebut sekaligus menjadi momentum untuk memperkuat sinergi antara Gereja Injili di Indonesia (GIDI), pemerintah, tokoh masyarakat, dan seluruh elemen masyarakat dalam membangun Kabupaten Tolikara.
Penasehat GIDI Wilayah Toli, Pdt. Agus Kogoya, S.Th., mengatakan GIDI memiliki sejarah panjang dalam kehidupan masyarakat Tolikara. Dari wilayah tersebut, GIDI terus berkembang dan kini telah hadir di berbagai daerah, bahkan hingga ke luar negeri.

“Saya Agus Kogoya, mantan Ketua Klasis Konda. Dan sekarang sebagai Penasehat Wilayah,” ujar Agus.
Menurut Agus, perkembangan GIDI tidak hanya terlihat dari semakin luasnya pelayanan gereja di Papua, tetapi juga dari keberadaan jemaat dan komunitas GIDI di berbagai negara.
“GIDI juga berkembang di mana-mana. Ada di Australia, India dan lain-lain,” katanya.
Ia menjelaskan, perkembangan tersebut menunjukkan bahwa jemaat GIDI yang berasal dari Tolikara telah menyebar dan membangun kehidupan gereja di berbagai tempat. Para generasi dan anak-anak GIDI yang berada di luar Papua turut mengembangkan pelayanan di wilayah masing-masing.
“Gereja ini berkembang di seluruh dunia. Di Australia, India, dan di mana-mana mereka masih ada. Anak-anak yang ada kemudian kembali dan berkembang sendiri di tempat-tempat lain,” tuturnya.
Gereja dan Pemerintah Berjalan Bersama
Agus menegaskan, keberadaan gereja dan pemerintah di Kabupaten Tolikara memiliki hubungan yang erat dalam kehidupan masyarakat. Menurutnya, keduanya mempunyai peran penting dan dapat berjalan bersama dalam membangun daerah.

“Gereja dengan pemerintah satu di Kabupaten Tolikara,” tegas Agus.
Ia menilai, kerja sama antara pemerintah, gereja, dan masyarakat perlu terus diperkuat. Keterlibatan tokoh-tokoh gereja dalam kehidupan sosial dan pembangunan daerah dinilai penting agar berbagai program dan kebijakan dapat berjalan dengan semangat kebersamaan.
Bagi Agus, gereja tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga mempunyai tanggung jawab sosial dan moral terhadap masyarakat.
“Sebagai tokoh gereja, kami boleh dimasukkan agar seperti ini. Ada kita lakukan di gereja ini, dan gereja juga mempunyai aturan serta hukum yang harus dijalankan,” jelasnya.
Ia juga mengingatkan pentingnya menghormati keberadaan organisasi maupun denominasi gereja lainnya. Perbedaan denominasi, menurutnya, tidak seharusnya menjadi alasan untuk membangun perbandingan yang dapat memecah persatuan masyarakat.
“Tidak ada tempat di sini untuk membandingkan organisasi lain atau denominasi lain,” katanya.
Festival Etnik Religi Jadi Momentum Kebersamaan

Pelaksanaan Festival Etnik Religi Kabupaten Tolikara 2026 menjadi salah satu bentuk nyata dari semangat kebersamaan tersebut.
Agus menyebut festival ini sebagai ruang pertemuan berbagai unsur masyarakat, termasuk gereja dan pemerintah, untuk memperkuat hubungan serta membangun kehidupan sosial yang harmonis.
“Kami melakukan Festival Etnik Religi Kabupaten Tolikara 2026,” ujarnya.
Menurut dia, festival tersebut tidak semata-mata menjadi kegiatan seremonial. Lebih dari itu, kegiatan ini diharapkan menjadi momentum untuk memperlihatkan bahwa masyarakat, gereja, dan pemerintah dapat mengambil bagian bersama dalam membangun Tolikara.
Keterlibatan tokoh gereja dalam kegiatan seperti ini juga dinilai penting untuk menyampaikan pesan persatuan, menjaga keharmonisan, dan memperkuat rasa memiliki terhadap daerah.
Tolikara dan Perkembangan GIDI ke Berbagai Negara
Agus kembali menekankan posisi Tolikara sebagai bagian penting dalam sejarah perkembangan GIDI. Dari Tolikara, pelayanan dan jemaat GIDI kemudian berkembang ke berbagai wilayah di Papua, Indonesia, hingga mancanegara.
Ia menyebut keberadaan jemaat GIDI di Australia, India, serta berbagai wilayah lainnya sebagai bukti . Pungkasnya. (Kossay/Nay)














