banner 728x286

Festival Etnik Religi Tolikara Jadi Titik Balik: Sejarah Dijaga, Generasi Muda Disiapkan Jadi Pelaku Pembangunan

banner 120x600

TOLIKARA, SUARALANI.id– Festival Etnik Religi Kabupaten Tolikara 2026 tidak hanya menjadi perayaan budaya dan keagamaan. Bagi Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kabupaten Tolikara, festival ini merupakan momentum untuk menghidupkan kembali sejarah masuknya Injil di Tolikara sekaligus membuka ruang yang lebih besar bagi generasi muda untuk menjadi pelaku pembangunan di tanah kelahirannya.

Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga Kabupaten Tolikara, Jundi Wanimbo, S.IP., menyambut positif penyelenggaraan festival yang digelar Pemerintah Kabupaten Tolikara tersebut.

“Kami dari Dinas Pemuda dan Olahraga Kabupaten Tolikara sangat responsif terhadap Festival Etnik Religi yang diselenggarakan oleh Pemerintah Kabupaten Tolikara,” kata Jundi.

Menurutnya, salah satu nilai penting festival adalah bagaimana sejarah perjalanan Tolikara dapat diwariskan kepada generasi yang lebih muda. Sebab, tidak semua anak-anak yang lahir pada masa kini mengetahui bagaimana perjalanan Tolikara pada masa lalu, kondisi saat ini, maupun arah Tolikara di masa mendatang.

“Semoga melalui momen ini bisa mengangkat sejarah Injil masuk di Tolikara. Generasi orang tua, generasi kami, mungkin sudah beberapa kali mengetahui dan melihat sejarah-sejarah Injil masuk di Toli. Tetapi generasi anak-anak yang baru lahir ini, mereka tidak tahu,” ujarnya.

Jundi menilai, festival dapat menjadi media pembelajaran sejarah sekaligus sarana membangun kesadaran generasi muda terhadap identitas daerah.

“Mereka tidak tahu, mereka tidak paham bagaimana Toli ini dulu, Toli sekarang, dan Toli akan datang,” katanya.

Festival sebagai Media PenginjilanLebih jauh, Jundi melihat Festival Etnik Religi memiliki dimensi keagamaan yang kuat. Baginya, kegiatan tersebut dapat menjadi sarana menyampaikan kembali nilai-nilai Injil kepada masyarakat melalui sejarah, budaya, dan kehidupan sosial.

“Sebagai intelektual, tapi juga generasi Toli, kami sangat responsif positif,” ucapnya.

Ia berharap festival yang tahun ini masih digelar secara sederhana dapat terus diperbaiki dan dikembangkan pada tahun-tahun berikutnya. Dengan demikian, sejarah dan budaya Tolikara dapat dikemas secara lebih menarik serta mampu menjangkau generasi muda.

“Tahun ini mungkin kita lakukan seadanya, tetapi tahun akan datang dan seterusnya mungkin kami akan kemas, atau panitia pemerintah akan kemas acara ini sebaik mungkin,” tuturnya.

Jundi bahkan memandang kegiatan tersebut sebagai bentuk penginjilan yang dilakukan melalui ruang publik.

“Di tempat ini, acara resmi seperti ini merupakan satu penginjilan. Seharusnya satu penginjilan yang tidak secara langsung diselenggarakan, disampaikan, dan disaksikan oleh semua orang,” katanya.

Menurutnya, penginjilan tidak selalu harus dilakukan dengan mendatangi tempat lain. Melalui festival yang mempertemukan masyarakat, pesan keagamaan juga dapat disampaikan secara langsung.

“Jadi penginjilan tidak perlu kita pergi ke luar. Tetapi dengan momen ini, di sini kita memberitakan Injil,” tegas Jundi.

Generasi Muda Tidak Boleh Hanya Jadi PenontonSelain menjaga sejarah dan nilai religi, Dispora Tolikara menjadikan pembangunan kepemudaan sebagai perhatian utama.Jundi mengatakan generasi muda harus mendapatkan ruang untuk mengambil bagian secara langsung dalam pembangunan daerah.

“Kami sebagai Dinas Pemuda dan Olahraga juga punya harapan besar, supaya ke depan pemuda kami, anak-anak kami, generasi Toli ini, betul-betul dilibatkan menjadi pelaku pembangunan,” ujarnya.

Menurutnya, Tolikara memiliki banyak anak muda berbakat, khususnya di bidang olahraga. Potensi tersebut harus dibina secara konsisten agar mampu bersaing dan mengharumkan nama daerah.

“Mereka di bidang olahraga, paralayang, tinju, yang luar biasa,” katanya.

Jundi menyebut Dispora bersama jajaran terkait terus berupaya meningkatkan kemampuan generasi muda melalui pembinaan dan pengembangan potensi.

“Dengan ketua KONI, sekretaris, kami terus meningkatkan potensi anak-anak kami yang ada di sini, supaya ke depan mereka menjadi tuan di negeri sendiri. Mereka tidak jadi penonton, tapi mereka dilibatkan jadi pelaku pembangunan,” tegasnya.

Paralayang, Tinju, hingga Sepak Bola Jadi AndalanSejumlah cabang olahraga menjadi perhatian Dispora Tolikara. Salah satunya paralayang yang dipersiapkan untuk mengikuti ajang Paragon 2028 di NCT.

“Ini ada paralayang, sudah rencana, akan kami siapkan untuk ikut Paragon 2028 di NCT,” ungkap Jundi.

Di cabang tinju, Tolikara juga telah mencatat prestasi. Jundi menyebut tim tinju Tolikara berhasil meraih juara umum dalam kejuaraan yang berlangsung di Wamena.

“Tinju di Wamena sudah memenangkan juara umum,” katanya.

Sementara di cabang sepak bola, pembinaan dilakukan melalui sekolah sepak bola (SSB) untuk menyiapkan talenta-talenta muda sejak dini.

“Sepak bola, ada beberapa generasi anak-anak kami di bina SSB,” ujarnya.

Salah satu talenta muda yang disebut Jundi adalah Firman. Ia mengatakan Firman telah bergabung dengan Persipura Junior, sebuah capaian yang dinilai membanggakan dan menunjukkan bahwa anak-anak Tolikara memiliki peluang untuk berkembang ke level yang lebih tinggi.

“Ada satu orang anak, Firman, yang sudah ada di Persipura Junior. Itu luar biasa,” katanya.

Menyiapkan Pemuda sebagai Tuan di Negeri SendiriJundi menegaskan pembinaan pemuda akan terus dilakukan dan tidak berhenti pada festival atau kegiatan tertentu.

“Kami terus akan membina, kami akan terus menggali potensi-potensi yang ada di sini,” ujarnya.

Ia ingin generasi Tolikara memiliki kesempatan yang sama dengan generasi muda dari daerah lain untuk maju, baik dalam organisasi kepemudaan maupun berbagai cabang olahraga.

“Supaya ke depan orang Toli tidak jadi penonton, orang Toli tidak jadi terbelakang, tetapi mereka juga sama dengan kabupaten-kabupaten lain untuk memajukan di bidang organisasi, kepemudaan, sepak bola, tinju, paralayang, dan lain-lain,” tegasnya.

Menurut Jundi, masa depan Tolikara sangat bergantung pada kemampuan daerah dalam menyiapkan generasi muda yang memahami sejarah, memiliki karakter, serta mampu mengambil peran dalam pembangunan.

Karena itu, Festival Etnik Religi Kabupaten Tolikara 2026 diharapkan tidak berhenti sebagai agenda tahunan, tetapi berkembang menjadi ruang untuk mempertemukan sejarah, budaya, agama, olahraga, kepemudaan, dan pembangunan.

Di tengah momentum tersebut, Jundi mengajak seluruh masyarakat untuk bersama-sama menjaga semangat dan menyukseskan festival sebagai bagian dari upaya membangun kebanggaan terhadap identitas Tolikara.

“Tetap semangat. Kita sama-sama sukseskan Festival Etnik dan Religious Kabupaten Tolikara tahun 2026 dengan semangat,” pungkasnya.[Kosai Jhesy Kogoya/Nay]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *