banner 728x286

Festival Etnik Religi Tolikara 2026 Resmi Digelar, Bupati Willem Wandik Bidik Pariwisata hingga Dunia.

banner 120x600

TOLIKARA, SUARALANI.id–Festival Etnik Religi Kabupaten Tolikara 2026 resmi digelar di Kabupaten Tolikara, Papua Pegunungan, Rabu (12/8/2026).

Festival ini menjadi ruang untuk mengangkat kembali kekayaan budaya, kehidupan religi, dan potensi alam Tolikara agar dikenal lebih luas, mulai dari kawasan Lapago, Papua Pegunungan, Tanah Papua, Indonesia hingga mancanegara.

Kegiatan tersebut melibatkan Pemerintah Kabupaten Tolikara, TNI-Polri, denominasi gereja, khususnya Gereja Injili di Indonesia (GIDI), serta seluruh lapisan masyarakat Kabupaten Tolikara.

Bupati Tolikara Willem Wandik mengatakan festival tersebut tidak hanya dimaksudkan sebagai kegiatan seremonial, tetapi menjadi bagian dari upaya pemerintah daerah memperkenalkan potensi budaya dan alam Tolikara sekaligus mendorong dampak ekonomi bagi masyarakat.

“Dari penyelenggaraan festival ini adalah bagaimana kami menggaungkan Festival Etnik-Religi ini kepada masyarakat di wilayah Lapago, Papua Pegunungan, dan juga Tanah Papua, dan juga Indonesia, dan juga dunia,” kata Willem Wandik.

Menurutnya, Tolikara memiliki kekayaan kultur dan budaya serta keindahan alam yang luar biasa. Kehadiran Injil di tengah masyarakat juga dinilai turut memberikan penguatan terhadap kehidupan sosial dan budaya masyarakat setempat.

“Bahwa kami di Tolikara memiliki potensi yang luar biasa, baik kultur atau budaya yang kita miliki dan juga alam, potensi keindahan alam yang kita miliki,” ujarnya.

Wandik menambahkan, nilai-nilai keagamaan yang berkembang di tengah masyarakat menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan sosial budaya masyarakat Tolikara.

“Dengan hadirnya Injil juga, dia memproteksi dan memfilter, dan mempererat sosial budaya yang dimiliki oleh warga yang ada di Kabupaten Tolikara,” katanya.

Akan Jadi Agenda Rutin Setiap AgustusBupati Willem Wandik menegaskan, kekayaan budaya dan potensi daerah tersebut perlu diangkat serta dilestarikan agar memiliki daya tarik bagi wisatawan.

“Dalam event ini kami itu diangkat kembali, dilestarikan kembali, supaya bisa memiliki daya tarik, atau daya magnet, bagi para wisatawan, baik dalam negeri maupun juga mancanegara,” tuturnya.

Karena itu, Pemerintah Kabupaten Tolikara berencana menjadikan Festival Etnik Religi sebagai agenda rutin yang digelar setiap bulan Agustus.

“Event-event seperti ini akan kami selenggarakan berulang kali pada setiap bulan Agustus, dan ini sudah menjadi agenda regional,” jelas Wandik.

Ia menyebut Festival Etnik Religi Tolikara sebagai salah satu festival yang melengkapi berbagai agenda budaya di Papua.

“Di Papua ini ada Festival Danau Sentani, ada Festival Lembah Baliem, ada Festival Etnik-Religi di Karubaga, Tolikara, dan ada Festival Asmat di Merauke,” ujarnya.

Wandik berharap keberlanjutan festival tersebut dapat memberikan multiplier effect atau efek berganda bagi masyarakat dan pemerintah daerah, terutama melalui sektor pariwisata, ekonomi masyarakat, budaya, serta berbagai aktivitas pendukung lainnya.

“Dan ini akan rutin nanti, akan diselenggarakan rutin, dan semoga ini memberikan dampak multiplier effect bagi warga kita di Kabupaten Tolikara ini, dan juga pemerintah daerah,” katanya.

Di Tengah Efisiensi AnggaranDi sisi lain, Bupati Willem Wandik mengungkapkan bahwa pemerintah daerah masih menghadapi tantangan keterbatasan anggaran akibat kebijakan efisiensi anggaran pemerintah pusat. Ia menjelaskan, kondisi geopolitik global turut memberikan dampak terhadap penerimaan negara yang kemudian berpengaruh terhadap kemampuan fiskal daerah.

“Apakah kami akan melanjutkan di wilayah pembangunan lain lagi atau tidak? Nanti kami akan sesuaikan dengan kemampuan yang ada pada kami, karena kita masih dihadapkan pada posisi efisiensi anggaran,” kata Wandik.

Menurutnya, efisiensi anggaran tersebut berdampak terhadap daerah, termasuk Kabupaten Tolikara, yang mengalami penurunan penerimaan APBD, Sehingga berdampak terhadap daerah-daerah seperti kita di Tolikara ini, kami benar-benar terpukul, di mana kami mengalami penurunan penerimaan APBD dampak daripada efisiensi anggaran itu, ujarnya.

Kondisi tersebut, kata dia, membuat sejumlah program pembangunan yang telah dirancang pemerintah daerah belum dapat dijalankan secara maksimal dalam rangka mewujudkan visi dan misi yang telah dituangkan dalam RPJMD Kabupaten Tolikara 2025–2029.

“Sehingga banyak program-program yang tidak bisa kami jalankan dalam rangka mewujudkan visi misi kami yang sudah didaftarkan dalam RPJMD 2025–2029 di Kabupaten Tolikara,” ungkapnya.

Bupati Ajak Warga Sambut HUT ke-81 RIDalam kesempatan tersebut, Wandik juga mengajak seluruh masyarakat Kabupaten Tolikara menyambut Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia dengan penuh sukacita. Ia meminta masyarakat menjaga keamanan dan ketertiban di wilayah masing-masing agar seluruh rangkaian kegiatan peringatan kemerdekaan dapat berlangsung aman dan lancar.

“Karena itu kami imbau kepada seluruh masyarakat Kabupaten Tolikara, mari kita sama-sama menyongsong perayaan HUT 17 Agustus yang ke-81 ini dengan penuh sukacita, bersukaria,” ujar Wandik.

Ia juga mengajak masyarakat menjaga situasi di kampung masing-masing, termasuk di Karubaga, Kondaga, Kanggi, Kembu, Bogo, hingga wilayah Mamberamo.

“Kita sama-sama menjaga mobilitas kampung di wilayah kita masing-masing, baik di Karubaga atau di Kondaga, di Kanggi, di Kembu, Bogo, dan juga di Mamberamo, sehingga kegiatan penyelenggaraan HUT 17 ini semua bisa berjalan lancar, aman, dan tertib,” katanya.

TNI-Polri Pastikan Festival Berjalan AmanSementara itu, Komandan Kodim (Dandim) 1716 Tolikara, Letkol Inf. Derek Serebi Rumbino, mengapresiasi pelaksanaan Festival Etnik Religi pada hari pertama yang berjalan aman dan lancar.

“Kami dari pihak TNI berterima kasih karena kegiatan hari ini, Festival Etnik Religi yang dilaksanakan di Kabupaten Tolikara, berjalan dengan baik untuk hari pertama,” ujar Derek Serebi Rumbino.

Menurutnya, kelancaran kegiatan tersebut tidak terlepas dari koordinasi dan dukungan berbagai pihak, mulai dari Bupati dan Wakil Bupati Tolikara, pemerintah daerah, masyarakat, hingga tokoh-tokoh adat.

“Tidak terlepas daripada koordinasi dari Bapak Bupati juga dan Wakil Bupati, termasuk pemerintah, masyarakat, seluruh tokoh-tokoh adat yang ada di Kabupaten Tolikara, sehingga kegiatan hari ini, kegiatan Festival Etnik Religi dapat berjalan dengan baik,” katanya.

Dandim berharap koordinasi dan sinergi yang sama dapat terus dipertahankan, terutama dalam menghadapi berbagai kegiatan besar yang akan digelar di Tolikara, termasuk rangkaian peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.

“Harapan kita ke depan, untuk kegiatan 17-an atau event-event yang besar, dapat kita laksanakan dengan baik,” ujarnya.

Ia memastikan TNI dan Polri siap memberikan dukungan terhadap berbagai kegiatan pemerintah dan masyarakat di Kabupaten Tolikara.

“Semuanya nanti dari Bapak Bupati dengan Wakil Bupati, dan kami pihak TNI Polri siap mendukung untuk pelaksanaan kegiatan yang berjalan di Kabupaten Tolikara, sehingga dapat berjalan dengan aman, dengan baik, termasuk juga dari pihak kepolisian,” tegasnya.

Festival Etnik Religi Kabupaten Tolikara 2026 pun diharapkan menjadi lebih dari sekadar perayaan budaya dan keagamaan. Pemerintah daerah menempatkannya sebagai bagian dari strategi memperkenalkan identitas Tolikara, menjaga warisan budaya, memperkuat kehidupan sosial masyarakat, serta membuka peluang ekonomi dan pariwisata.Dengan dukungan pemerintah, gereja, TNI-Polri, tokoh adat, dan masyarakat, festival ini diharapkan terus berkembang menjadi agenda regional yang mampu membawa nama Tolikara dari Karubaga menuju panggung Papua, Indonesia, hingga dunia.[Kosai Jhesy Kogoya/Nay].

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *