banner 728x286

Pendidikan Adalah Prioritas

banner 120x600

Oleh: Angginak Sepi Wanimbo** (Ketua Gerakan Literasi Mencerdaskan Anak Negeri Papua Pegunungan)

“Tanpa pengetahuan kerajinanmu tidak baik; orang yang tergesa – gesa akan salah langkah. Kebodohan menyesatkan jalan orang, lalu gusarlah hatinya kepada Tuhan” (Amsal 19 : 2 – 2).

Membua tulisan ini, saya mau membagikan pengalan kisah seorang pemaian bola basket. Terkenal pada eranya di Amerika Serikat. Ia juga sebagai pelatih kepala di Universitas California di Los Angeles. Di sini saya bukan mengajak pembaca untuk mengagumi permainan dan strateginya, tetapi menyelami proses dan integritas yang dibangunnya selama bertahun – tahun.

Berikut petikan penting tentang ulasan soal pentingnya pendidikan dalam hidupnya, yang juga menjadi bagian penting dalam membentuk integritas dan karakternya, seperti yang ditulis oleh John C. Maxwell dalam The Maxwell Daily Reader (2011: Hal.. 114-115).

“Wooden telah menerima pekerjaan sebagai guru bahasa Inggris di SMA Kentucky, dan ia kebingungan apakah harus mempertimbangkan kembali karena ada tawaran kontrak professional yang mrnjanjikan penghasilan lebih besar. Lambert bertanya apakah prioritasnya di Purdue adalah pendidikan atau basket. Ketika Wooden menjawab bahwa prioritas ialah pendidikan, Lambert mengatakan bahwa ia sudah tahu apa yang harus dilakukan (Hal. 114).

Kemudian, masih merujuk apa yang ditulis John C. Maxwell (2011: Hal. 115), bahwa John Wooden diminta merumuskan soal “kesuksesan” oleh seorang guru Matematika. Hal ini yang seringkali dimengerti kesuksesan dekat dengan ketenaran dan juga keberuntungan. Ia memberikan jawaban dengan mengungkapkan pelajaran penting dari ayahnya.”Kesuksesan adalah kedamaian pikiran yang merupakan akibat langsung dari kepuasan diri ketika mengetahui bahwa Anda telah melakukan yang terbaik untuk menjadi diri yang terbaik mungkin” (Hal. 115).

Menurut saya, ada tiga pesan penting dan berharga dari apa yang dinyatakan oleh John Wooden tersebut. Antara lain, bahwa John Wooden memegang nasihat – nasihat orang tuanya. Ia mengutamakan pendidikan lebih penting dari pada tawaran pekerjaan profesional dengan bayaran besar.

Kita bisa belajar cara Wooden mendefinisikan arti sukses, bahwa kehadirannya menjadi berkat bagi orang lain dengan melakukan yang terbaik dan ia menikmati kedamaian pikiran dan kepuasan. Kepuasan dalam arti sukacita dan kegembiraan ketika orang lain mendapat berkat dari kehadiran kita bukan mencari ketenaran.

Karakter seperti ini mahal harganya. Karena kepercayaan, penghormatan, penghargaan dan pengakuan merupakan nilai – nilai hidup yang tidak pernah bisa dibeli dan diukur dengan nilai uang. Semua ini hanya dimiliki oleh pribadi – pribadi yang beriman kepada Tuhan, kerendahan hati, mengasihi sesama, mememperjuangkan keadilan, menegakkan kebenaran, menghormati martabat manusia dan mencintai kedamaian.

Pribadi – pribadi yang berkarakter adalah ketika ia mampu merasakan dan menjadi bagian dari situasi; gembira, sedih, menderita, tak beruntung, yang dialami oleh orang lain. Ia rela mengasihi sesamanya dengan mata iman dan mata hati.

Suatu kegembiraan besar ialah ketika Anda mampu berada di pihak rakyat yang tak beruntung, tertindas, teraniaya, terabaikan, dan tak bersuara. Itu artinya, bahwa Anda seorang pemimpin besar dan orang yang bermartabat dan berdaulat penuh atas hidup Anda. Sebaliknya, jika Anda berada dipihak penguasa, penindas berarti Anda adalah orang budak yang telah kehilangan kedaulatan pribadi. Anda telah kehilangan sebagaian besar kemanusiaan Anda. Pada 3 April 2019 saya pernah menulis ini.

“Saya beriman dan sadar, bahwa saya dilahirkan di tanah Melanesia ini bukan untuk membela diri dan membenarkan diri. Karena Tuhan Yesus Kristus sudah membela dan membenarkan saya dengan sempurna melalui kelahiran-Nya, kematian-Nya di Golgota dan kebangkitan-Nya dari kubur. Saya sadar, saya tahu, dan saya mengerti, saya dihadirkan untuk membela martabat dan kehormatan bangsaku dan rakyatku di tanah ini, Papua, yang direndahkan martabat mereka atas nama keamanan nasional. Kejahatan kemanusiaan dan ketidakadilan ini harus dilawan. Ini pesan Salib. Ini pesan Injil. Ini pesan dan amanat Tuhan. Ini pesan dan titipan ayah dan ibu. Ini titipan para guruku”.

Kemudian pada 5 Maret 2019, saya pernah mengabadikan kenangan ini dalam sebuah tulisan begini.

“Memang saya akui jujur dan benar, kedua orang tua saya adalah buta huruf dan tidak berpendidikan dan tidak tahu membaca dan menulis. Memang benar kedua orang tua saya tinggal di kampung terpencil. Memang benar kedua orang tua berbadan telanjang dan berbusana pakaian kehormatan mereka. Memang benar orang tua saya hidup dalam honai tanpa ventilasi/jendela untuk menerangi mereka. Memang benar kedua orang tua saya setiap hari konsumsi ubi dan keladi bakar”.

Pertanyaannya, apakah keadaan ini identik dengan ketertinggalan dan kebodohan? Jawabannya: TIDAK. kedua orang tua saya adalah orang – orang bermoral, punya iman, punya integritas. Hari ini, keberadaan saya, ialah cermin dari kedua orang tua saya bahwa mereka berdua adalah orang tua yang hebat dan luar biasa.

Mereka tidak berpendidikan dan tidak tahu membaca dan menulis, tapi mereka telah mengukir nilai – nilai kerendahan hati, kasih, kedamaian, kebenaran, kejujuran, ketulusan, dan solidaritas dapat memeteraikan di hati dan kehidupan saya, meskipun, kedua orang tua saya, mungkin Anda juga, tidak mendapatkan pendidikan yang baik, namun mereka berjuang dengan keras agar anak – anaknya bisa mendapatkan pendidikan yang lebih baik dari mereka, bahkan jauh lebih baik lagi. Sumber Bacaan. Kuasa Kata – Kata, Catatan Kritis dan Refeleksi Seorang Gembala. Dr. Socratez Sofyan Yoman, Hal. 100 – 104, Tahun 2022.

Tetapi engkau telah mengikuti ajaranku, cara hidupku, pendirianku, imanku, kesabaranku, kasihku dan ketekunanku. Engkau telah ikut menderita penganiayaan dan sengsara seperti yang telah kuderita di Antiokhia dan di Ikonium dan di Listra.

Semua penganiayaan itu kuderita dan Tuhan telah melepaskan aku dari padanya. Memang setiap orang yang mau hidup beribadah di dalam Kristus Yesus akan menderita aniaya, sedangkan orang jahat dan penipu akan bertambah jahat, mereka menyesatkan dan disesatkan.

Tetapi hendaklah engkau tetap berpegang pada kebenaran yang telah engkau terima dan engkau yakini, dengan selalu mengingat orang yang telah mengajarkannya kepadamu.Ingatlah juga bahwa dari kecil engkau sudah mengenal Kitab Suci yang dapat memberi hikmat kepadamu dan menuntun engkau kepada keselamatan oleh iman kepada Kristus Yesus.

Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran.

Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik. (2 Timotius 3 : 10 – 17).

TiEyom, 18 Agustus 2026

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *