Oleh :Angginak Sepi Wanimbo Ketua Gerakan Literasi Mencerdaskan Anak Negeri Papua Pegunungan
FILOSOFI, Orang Lani. Moyang leluhur orang Lani biasanya ingin titipkan pesan moral dari tete tidak pernah mencatat baru simpan di lemari atau laci tetapi pesan moral itu mereka simpan dalam memori kepala.
Jika generasi penerusnya ingin menerima pesannya dari tete untuk masa depan berarti mereka mengambil waktu taat, setia, jujur dan dengar – dengaran pada tete yang serumah.
Kebutuhan hidup bagi seorang tete seperti makan, minum, kayu bakar, serta kerja kebun. Tentu membutuhkan dukungan ulurang tangan oleh anak – anaknya tetapi juga cucunya? Dari sekian banyak anak dan cucu salah satunya palin jujur, taat, setia lalu dengar – dengaran pada tetenya.
Maka salah satu generasi muda tersebut selalu dengan setia melengkapi kebutuhan hidup bagi tetenya seperti siapkan makan, minum, mencari kayu bakar lalu mengantar ke honai dan menimani tidur bersama.
Lalu tete ini melihat dan mengikuti pada generasi penerus tersebut dari keteladan, kepolosan, kejujuran, kesetiaan dengan pelayanan secara – baik sehingga pesan moral yang ada pada tete dari leluhur itu salurkan, pesan – pesan moral kepada generasi penerus untuk hidup damai dengan keluarga.
Misalnya pesan moral seperti ini, jangan mencuri hak orang lain, jangan membunuh manusia, jangan menipu orang lain, garis keturunan, batas wilayah, lalu jangan bersantai tetapi tangan itu bergerak mengelola kekayaan tanah, hutan dan ternak untuk menghidupan kehidupan keluarga.
Pesan moral ini tidak bisa mendapat di jalan – jalan tetapi bisa mendapat hanya di honai laki – laki. Setelah menerima pesan moral menerapkan dalam kehidupan sosial dengan teliti maka dalam kehidupan beserta keluarga dari sisi ekonomi, kepemimpinan, dan peningkatan kapasitas, Sumber Daya Manusia, (SDM). terus maju di berbagai lini.
Kita melihat saat ini negara – negara maju seperti Israel, Amerika, Belanda, Jepang dan negara lainnya. Jika mereka mau menitipkan pesan moral seperti moyang leluhur orang Lani ada di honai. Tentu mereka menitipkan pesan moralnya atau dokumen untuk hidup yaitu melalui alat – alat cangih, misalnya memori kamera giga besar untuk mendokumentasikan setiap peristiwa – peristiwa itu untuk anak cucunya ke depan.
Bangsa lain setiap peristiwa, selalu merekam menjadi catatan sejarah. Sejarah gereja dan sejarah bangsa dengan alat – alat khusus yang bisa menyimpan dokumen kapasitas besar, tetapi bagi bangsa Lani. Moyang leluhur catatan dukumen hidupnya selalu disimpan di memori kepala rupanya memori kepala moyang leluhur orang Lani kapasitasnya sangat besar sebab setiap peristiwa selalu direkam di memori kepalanya untuk hidup.
Saat ini perkembangan zaman teknologi terus berubah dan maju sehingga nilai – nilai seperti bahasa, budaya, sejarah yang diwariskan oleh moyang leluhur Lani itu terus tergusur oleh karena itu bagi ayah dan ibu tentu membangkitkan kembali kekayaan warisan leluhur yang diwariskan oleh mereka sebab mereka adalah pahlawan hidup bagi orang Lani.
Menghidupkan kembali nilai – nilai suatu warisan kekayaan leluhur orang Lani. Dengan banyak cara yaitu salah satunya terus meningkatkan gerakan literasi, dari honai ke honai, gereja, komunitas, ikatan, pemerintah daerah serta di setiap sekolah yang ada di tanah Papua.
Selain itu pesan moral, dokumen hidup yang ada pada moyang leluhur ada pada ayah di pedalaman kampung tentu bagi generasi muda mengambil waktu mengisi untuk merekam dokumennya melalui memori kepala juga tetapi merekam melalui pena diatas kertas putih sebagai pijakan dalam kehidupan.
Sebab menulis pada hakikatnya sama dengan berbicara. Kita perlu menyampaikan apa yang ada dalam pikiran dan hati kita kepada orang lain agar mereka memahaminya. Penyampaian pesan itu dalam bentuk tulisan biarlah tetap hidup.Ketika kita bisa berbicara dengan lisan kita rasakan sangat mudah, maka demikian juga seharusnya dengan menulis. Hanya saja, perangkat tubuh yang digunakan berbeda. Berbicara dengan ucapan menggunakan lisan, sedangkan menulis menggunakan tangan. Jika kita merasa kesulitan berbicara melalui tulisan, itu hanyalah karena kita tidak terbiasa melakukannya.Karena tingkat kemudahan menggunakan kedua perangkat tersebut peluangnya sama, maka marilah kita setarakan.
Mari kita memulai untuk melatih (menerampilkan) diri untuk menulis. Jika kita sudah terampil, maka menulis itu sama menyenangkannya dengan berucap. Bahkan menulis itu memiliki kelebihan, yaitu sekali ditulis tidak akan hilang (kecuali) jika dihapus. Isi tulisan bisa dibaca oleh orang banyak dalam rentang waktu yang lama ke depan.
Ucapan akan segera hilang dan dilupakan segera setelah diucapkan. Apalagi jika pembicaraannya panjang, hanya sedikit yang mampu ditangkap oleh lawan bicaranya atau pendengarnya. Namun demikian, ucapan juga memiliki kelebihan, yaitu kesertaan ekspresi yang mencerminkan perasaan pembicara.
Sedangkan pada tulisan, perasaan penulis harus diuraikan dalam rangkaian kata-kata. Pesan moral dan misi tertentu yang dikandung dalam ucapan, misalnya ceramah, jangkauan dan jumlah sasarannya terbatas. Sedangkan tulisan, jangkauan dan jumlah pembacanya tak terbatas, baik lingkup wilayah maupun jangka waktunya. Apalagi jika tulisan itu dituangkan di dunia maya, maka akan dibaca oleh pembaca di seluruh dunia kapan pun dan di mana pun.Nilai manfaat dari isi tulisan itu akan menginspirasi sangat banyak orang.
Jika itu dinilai dari sisi ibadah, akan terus mengalir selama tulisan itu masih ada dan dibaca orang. Inilah salah satu faktor yang membuat penulis “panjang umurnya” kendati tubuhnya sudah tidak lagi hidup di bumi ini. Bayangkan, jika yang ditulisnya adalah hal-hal yang positif dan bermanfaat. Apalagi jika tulisannya terus bertambah setiap hari memenuhi khazanah pengetahuan di alam ini.
Setiap peristiwa dan nilai – nilai warisan leluhur terus merekam melalui pena maka tulisan itu akan menjadi catatan sejarah bagi generasi penerus gereja dan bangsa di atas tanah ini. Jika setiap peristiwa tidak didokumentasiman dengan pena maka dengan perkembangan zaman akan hilang sendirinya.
Mari kita bangkit berbicara melalu pena untuk sampaikan kebenaran untuk mencerdaskan bagi yang belum dicerdaskan dan menjangkau yang belum dijangkau biarlah semua manusia mendapat harapan baru melalui bacaan tulisan dengan pena.
Berbicara dengan sesama manusia setiap saat itu boleh saja tetapi kita perlu melihat bahwa tentu akan ada baiknya lalu lebih sayang itu mendapat kekecewaan, stres, struk tetapi mengambil waktu selalu berbicara hanya dengan pena membuat Anda akan selalu sehat.
Bagi setiap manusia tanpa makan dan minum berjalan sangat tidak bisa karena makanan merupakan napas kehidupan bagi setiap manusia, sebaliknya setiap manusia tanpa membaca dan menulis berjalan tanpa arah dengan fisik lemah namun berjalan dengan membaca dan menulis akan melihat masa depan yang pasti.
TiEyom, 7 Agustus 2026Waktu, 9.14 WITPenulis: Ketua Gerakan Literasi Mencerdaskan Anak Negeri Papua Pegunungan












