PUISI
Oleh : Yosua Noak Douw
Dari gunung yang sunyi, dari lembah yang sepi,lahirlah sebuah imanyang tidak ditulis oleh tinta,tetapi oleh air mata doa.
Bukan dari kota besar,bukan dari bangunan megah, melainkan dari hati yang sederhana—yang mengenal Tuhanlebih dalam dari siapa pun.
Mereka tidak punya banyak kata,tidak punya gelar,tidak punya kemewahan.Hanya satu yang mereka punya:iman… yang menyala.
Mereka bertanya,“Apakah masih ada orang di balik gunung?”Dan ketika jawabannya: “Ada,”mereka tidak menunggu,mereka tidak ragu,mereka pergi.
Mereka berjalan jauh,melewati hutan,mendaki gunung,menyeberangi sungai,membawa Injildi dalam hati mereka.
GIDI lahir bukan dari rencana manusia,tetapi dari panggilan Allah.Bertumbuh bukan karena kekuatan,tetapi karena kesetiaan.
Di sana,orang-orang sederhana berkata:“Kami berdiri sendiri”.
Bukan karena sombong,tetapi karena yakin—Tuhan yang memanggil,Tuhan yang memimpin,Tuhan yang menyertai.
Hari demi hari,tahun demi tahun,Injil terus berjalan.
Dari pedalaman,ke pesisir,dari Papua,ke seluruh Indonesia,bahkan sampai ke bangsa-bangsa.
GIDI bukan sekadar gereja.Ia adalah langkah iman.Ia adalah perjalanan kasih.Ia adalah saksibahwa Tuhan bekerjamelalui orang-orang sederhana.
Enam puluh tiga tahun…bukan waktu yang singkat.
Ada air mata.Ada luka.Ada pengorbanan.Ada sukacita.
Namun satu yang tidak berubah:Injil tetap diberitakan.Doa tetap dinaikkan.Tuhan tetap disembah.
Hai generasi hari ini,dengarlah suara para perintis:
Jangan padamkan api itu.Jangan tinggalkan panggilan itu.Jangan tukar imandengan kenyamanan.
Jadilah seperti labuyang terus merambat,dipetik—tetapi hidup,dihambat—tetapi bertumbuh.
Karena gereja inibukan milik manusia.Gereja ini milik Kristus.
Dialah Kepala.Dialah Penuntun.Dialah Penjaga.
Selama Injil diberitakan,gereja akan hidup.
Selama doa dinaikkan,Tuhan akan bekerja.
Selama Yesus di tengah pelayanan,GIDI tidak akan pernah hilang arah.
Hari ini,dan sampai nanti,dari generasi ke generasi,
biarlah satu hal tetap tinggal:iman yang sederhana,kasih yang nyata,dan keberanianuntuk memberitakan Kristus.
Selamat ulang tahun, GIDI.Engkau bukan hanya gereja,engkau adalah rumah iman.
Engkau bukan hanya sejarah,engkau adalah panggilan.
Dan selama Tuhan Yesus hidup,GIDI… akan terus hidup.
Amin.oak Douw
Dari gunung yang sunyi,dari lembah yang sepi,lahirlah sebuah imanyang tidak ditulis oleh tinta,tetapi oleh air mata doa.
Bukan dari kota besar,bukan dari bangunan megah,melainkan dari hati yang sederhana—yang mengenal Tuhanlebih dalam dari siapa pun.
Mereka tidak punya banyak kata,tidak punya gelar,tidak punya kemewahan.Hanya satu yang mereka punya:iman… yang menyala.
Mereka bertanya,“Apakah masih ada orang di balik gunung?”Dan ketika jawabannya: “Ada,”mereka tidak menunggu,mereka tidak ragu,mereka pergi.
Mereka berjalan jauh,melewati hutan,mendaki gunung,menyeberangi sungai,membawa Injildi dalam hati mereka.GIDI lahir bukan dari rencana manusia,tetapi dari panggilan Allah.Bertumbuh bukan karena kekuatan,tetapi karena kesetiaan.
Di sana,orang-orang sederhana berkata:“Kami berdiri sendiri,”.
Bukan karena sombong,tetapi karena yakin—Tuhan yang memanggil,Tuhan yang memimpin,Tuhan yang menyertai.
Hari demi hari,tahun demi tahun,Injil terus berjalan.
Dari pedalaman,ke pesisir,dari Papua,ke seluruh Indonesia,bahkan sampai ke bangsa-bangsa.
GIDI bukan sekadar gereja.Ia adalah langkah iman.Ia adalah perjalanan kasih.Ia adalah saksibahwa Tuhan bekerjamelalui orang-orang sederhana.
Enam puluh tiga tahun…bukan waktu yang singkat.
Ada air mata.Ada luka.Ada pengorbanan.Ada sukacita.
Namun satu yang tidak berubah:Injil tetap diberitakan.Doa tetap dinaikkan.Tuhan tetap disembah.
Hai generasi hari ini,dengarlah suara para perintis:
Jangan padamkan api itu.Jangan tinggalkan panggilan itu.Jangan tukar imandengan kenyamanan.
Jadilah seperti labuyang terus merambat,dipetik—tetapi hidup,dihambat—tetapi bertumbuh.
Karena gereja inibukan milik manusia.Gereja ini milik Kristus.
Dialah Kepala.Dialah Penuntun.Dialah Penjaga.
Selama Injil diberitakan,gereja akan hidup.
Selama doa dinaikkan,Tuhan akan bekerja.
Selama Yesus di tengah pelayanan,GIDI tidak akan pernah hilang arah.
Hari ini,dan sampai nanti,dari generasi ke generasi,
biarlah satu hal tetap tinggal:iman yang sederhana,kasih yang nyata,dan keberanianuntuk memberitakan Kristus.
Selamat ulang tahun, GIDI.Engkau bukan hanya gereja,engkau adalah rumah iman.
Engkau bukan hanya sejarah,engkau adalah panggilan.
Dan selama Tuhan Yesus hidup,GIDI… akan terus hidup.
Amin.












