Oleh: Imanuel Gurik
Di balik kabut pegunungan Papua, GIDI lahir bukan dari kemewahan, tetapi dari luka yang dipeluk dengan doa.
Ia tumbuh dari air mata mama-mama kampung yang berdoa diam-diam, dari bapak-bapak yang bernyanyi di honai saat malam menggigit dingin.
GIDI bukan gereja yang datang membawa segalanya.
GIDI lahir ketika orang Papua tidak punya apa-apa… selain iman.
Sejarah mencatat 12 Februari 1963 sebagai hari lahir yang diberkati.
Hari ketika Injil tidak hanya diberitakan, tetapi menjadi napas hidup orang Papua.
GIDI berjalan di jalan berlumpur, menyeberang sungai, naik turun gunung, dan masuk ke kampung-kampung yang bahkan tidak dikenal peta.
Banyak hamba Tuhan lelah, banyak pelayan jatuh, banyak keluarga menangis…
tetapi api Injil tidak pernah padam.
Sampai hari ini, GIDI tetap berdiri—bukan karena kuat, tetapi karena Tuhan setia.
Dan ketika dunia lupa Papua, GIDI tetap berkata:
Papua adalah rumah kami, dan Injil adalah hidup kami.
SELAMAT MERAYAKAN HUT GIDI KE 63 TAHUN
12 FEBRUARI 1963
12 FEBRUARI 2026












