banner 728x286

Awal Baik, Gerakan Literasi Warnai Karubaga Tolikara

banner 120x600

KARUBAGA, SUARALANI.id—Cuaca cerah menyelimuti Lembah Tolikara saat matahari perlahan terbenam di balik puncak gunung yang megah. Pada Selasa, 26 Februari 2026, sejumlah pemuda, guru, dan intelektual dari berbagai daerah dengan penuh antusias menggelar lapak baca dan diskusi di Lapangan Terbang Kota Karubaga.

Kegiatan literasi tersebut berlangsung hangat dan penuh semangat. Premi Yigbalom menyampaikan bahwa literasi merupakan bahasa universal. Namun, menurutnya, masih banyak orang yang mampu membaca tetapi belum mampu menganalisis apa yang dibaca. Ada pula yang bisa membaca dan menulis, bahkan ada yang sama sekali belum memiliki kemampuan tersebut. Minimnya daya kritis, katanya, berakar dari kurangnya literasi.

Berdasarkan pantauan media ini, beberapa pemuda mengeluarkan buku-buku dari noken dan tas mereka untuk dibaca bersama. Para peserta kemudian larut dalam kegiatan membaca kolektif yang diselingi diskusi secara bergantian.

“Budaya membaca perlu ditingkatkan karena membaca adalah aset terbesar untuk masa depan. Jika kita kurang membaca, generasi muda bisa ditipu dan dikendalikan oleh penguasa maupun mereka yang memiliki literasi tinggi,” ujar Guru Tomi.

Hal serupa disampaikan Neky. Ia menilai berbagai kompleksitas persoalan di Papua mulai dari isu keadilan, kesenjangan ekonomi, hak politik, pemberdayaan orang asli Papua dalam birokrasi, hingga sulitnya mendapatkan pekerjaan yang layak tidak terlepas dari persoalan literasi. Menurutnya, masih banyak orang asli Papua yang telah menyelesaikan pendidikan tinggi, namun belum mendapat kepercayaan dan kesempatan yang setara dalam dunia kerja.

“Saya berpendapat sejumlah persoalan tersebut merupakan cerminan dari kurangnya literasi. Karena itu, saya berterima kasih kepada kawan-kawan yang memiliki ide cemerlang melahirkan Gerakan Literasi di Tolikara ini,” ujarnya.

Para penggagas gerakan ini juga menyoroti adanya stigma negatif terhadap putra daerah. Mereka menegaskan bahwa orang asli Papua memiliki kapasitas dan kapabilitas sumber daya manusia yang memadai. Namun, kesempatan yang terbatas sering menjadi kendala.

Karena itu, mereka memilih melakukan perlawanan secara intelektual melalui membaca, menulis, dan aksi-aksi edukatif. Gerakan literasi ini digagas tanpa memandang status sosial maupun latar belakang, dengan tujuan memperkuat kedaulatan politik, ekonomi, bisnis, dan kemandirian orang asli Papua di berbagai aspek kehidupan.


“Kami orang asli Papua, khususnya Tolikara, akan tetap hidup dan mati di tanah ini. Untuk mengubah wajah Tolikara dan Papua pada umumnya, diperlukan Injil dan pengetahuan. Karena itu, literasi menjadi hal yang fundamental,” tutur Midiles.


Melalui gerakan ini, mereka mengajak para aktivis, tokoh intelektual, kaum perempuan, guru, pegawai, pengemudi ojek, serta para pelajar untuk bergabung dan bergandengan tangan membangun budaya literasi. Tujuannya adalah mendidik masyarakat dan generasi muda agar memiliki kapasitas pengetahuan yang memadai dalam menjawab berbagai persoalan yang tengah dihadapi rakyat Papua. [CR01/SL]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *