banner 728x286

Rujukan Pasien Kusta dari Distrik Douw Tertunda Akibat Penghentian Penerbangan

banner 120x600

Douw – Rencana rujukan seorang pasien kusta asal Distrik Douw, Kabupaten Tolikara, ke RSUD Karubaga terpaksa ditunda setelah seluruh layanan penerbangan yang melayani wilayah tersebut dihentikan sementara menyusul insiden penembakan seorang pilot berkewarganegaraan Amerika Serikat di Kabupaten Yahukimo pada Sabtu (5/7/2026).

Pasien berinisial Ny. MS sejatinya telah dipersiapkan untuk mendapatkan penanganan lanjutan di rumah sakit karena kondisi kesehatannya memerlukan pemeriksaan dan perawatan yang tidak dapat dilakukan di Puskesmas Douw. Namun, penutupan akses transportasi udara oleh maskapai PT AMA membuat proses evakuasi medis tidak dapat dilaksanakan.

Tenaga kesehatan di Puskesmas Douw menyebutkan bahwa Ny. MS telah menderita penyakit kusta selama hampir lima tahun. Selama ini, petugas kesehatan terus memberikan pendampingan dan pengobatan awal sembari mengupayakan rujukan ke fasilitas kesehatan yang memiliki layanan lebih lengkap.

“Pasien sudah memperoleh pengobatan tahap awal di Puskesmas Douw. Namun, untuk penanganan lebih lanjut tetap harus dirujuk karena fasilitas kami memiliki keterbatasan obat, peralatan kesehatan, maupun tenaga medis untuk menangani kasus dengan tingkat keparahan seperti ini,” ujar perawat Nekiles Yigibalom, S.Kep.

Sebelum mencapai lokasi keberangkatan, pasien bersama keluarga harus menempuh perjalanan darat menggunakan tandu tradisional (jongsong) dari Distrik Douw menuju Dabra, Kabupaten Mamberamo Raya. Perjalanan tersebut memakan waktu hingga sekitar sepuluh jam melewati medan yang berat.

Menurut Nekiles, keputusan merujuk pasien didasarkan pada tingkat keparahan penyakit, lamanya pasien menderita sakit, serta keterbatasan pelayanan kesehatan di puskesmas. Selain itu, ketersediaan obat-obatan, alat kesehatan, dan sumber daya manusia juga menjadi pertimbangan utama.

“Kami berupaya agar pasien segera mendapatkan pelayanan lanjutan karena jika tidak ditangani secara optimal, penyakit kusta berpotensi menimbulkan komplikasi dan meningkatkan risiko penularan kepada anggota keluarga yang tinggal serumah,” katanya.

Keluarga pasien, yang diwakili Kepala Kampung Prawa, Bastia Pruwaro, mengapresiasi upaya tenaga kesehatan yang telah memberikan pelayanan sejak awal hingga mengurus proses rujukan.

“Ibu kami tidak hanya menderita kusta, tetapi sebelumnya juga mengalami pembengkakan pada payudara yang sudah ditangani oleh tenaga kesehatan. Kami bersyukur para petugas terus mendampingi dan berusaha agar ibu bisa mendapatkan pengobatan lebih lanjut,” ujarnya.

Dalam proses evakuasi, tenaga kesehatan juga menghadapi berbagai kendala, mulai dari sulitnya akses jaringan telekomunikasi untuk berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan hingga kondisi Bandara Douw yang belum dapat melayani penerbangan karena masih dalam proses perbaikan. Akibatnya, pasien harus dibawa melalui jalur darat menuju Dabra sebagai alternatif.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Tolikara, Elius Enembe, S.Kep., M.Kes., mengatakan pemerintah daerah terus berupaya mencari solusi agar pasien dapat segera dirujuk setelah layanan penerbangan kembali dibuka.

“Kami bersama Bupati telah berkoordinasi dengan pihak terkait, termasuk Dinas Perhubungan. Namun penghentian penerbangan merupakan kebijakan maskapai yang mempertimbangkan aspek keamanan dan keselamatan penerbangan. Kami berharap situasi segera normal sehingga pasien dapat segera dirujuk ke RSUD Karubaga,” kata Elius.

Ia menegaskan bahwa Pemerintah Kabupaten Tolikara tetap berkomitmen memberikan pelayanan kesehatan hingga ke daerah-daerah terpencil, termasuk Distrik Douw yang memiliki tantangan geografis dan beban penyakit cukup tinggi.

Menurut Elius, selain kasus kusta, wilayah tersebut juga masih menghadapi tingginya angka malaria dan berbagai penyakit menular lainnya. Karena itu, pemerintah terus berupaya meningkatkan ketersediaan obat-obatan, alat kesehatan, serta perlengkapan pencegahan seperti kelambu dan alat pelindung diri bagi masyarakat.

Dinas Kesehatan juga mengimbau masyarakat untuk menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), mengikuti pengobatan hingga tuntas bagi penderita kusta, serta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila menemukan gejala penyakit. Upaya tersebut dinilai penting untuk memutus rantai penularan sekaligus meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat di wilayah pedalaman Tolikara. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *